Daftar Isi▾
✨ Ringkasan (Buat yang Mau Cepat Tahu): Saya kuliah S1 Manajemen sambil bekerja penuh di Bekasi — dari admin gudang dengan sistem shift, pindah ke purchasing dengan jam normal, lalu ambil kelas karyawan malam. Rutinitas: kerja 7 pagi - 4 sore, kuliah 18:30-21:00, sampai rumah jam 10 malam, lanjut kerjakan tugas. 4 tahun kemudian: wisuda dengan IPK 3,39. Kuncinya: skala prioritas, support system sesama pejuang kelas karyawan dan ingat "why" Anda. Artikel ini pertama kali diterbitkan di dwik.xyz.

Saya lulusan SMK Teknik Pemesinan. Seperti kebanyakan teman-teman kejuruan, begitu ijazah di tangan, fokus saya bukan mencari universitas — tapi mencari kerja.
Bukan karena tidak ingin kuliah. Tapi kondisi mengharuskan saya realistis: saya ingin mandiri secara finansial, tidak bergantung pada orang tua. Ada kebanggaan tersendiri saat bisa memegang uang hasil keringat sendiri.
Tahun 2011, saya diterima di perusahaan swasta di Bekasi — sebagai admin gudang.
Realita: Shift, Lelah dan Mimpi yang Tertunda
Bekerja di gudang bukan cuma soal administrasi. Ada fisik — angkat barang, cek stok, mondar-mandir di area luas. Tapi tantangan terberat adalah sistem shift: pagi, siang, malam. Bahkan Sabtu tetap masuk.
Ritme hidup berantakan. Saat orang lain santai di akhir pekan, saya masih berkutat dengan tumpukan barang. Jangankan kuliah — untuk tidur nyenyak saja rasanya kurang.
Saya ingat momen di kontrakan Cibitung, selepas shift malam. Badan pegal, mata merah. Saya menatap langit-langit dan berpikir: "Kayaknya mimpi kuliah bakal susah terwujud. Waktunya tidak akan pernah ketemu."
Saya sempat pasrah. Tapi roda kehidupan berputar.
Titik Balik: Pindah ke Purchasing
Setelah beberapa waktu di gudang, ada restrukturisasi internal. Manajemen memindahkan saya ke bagian purchasing.
Perubahan ini adalah jawaban dari doa-doa yang tidak terucap:
- ✅ Non-shift: Masuk pagi, pulang sore
- ✅ Sabtu libur: Untuk pertama kalinya, saya punya akhir pekan
Begitu ritme hidup normal, api kuliah yang sempat redup menyala lagi. Saya langsung mendaftar di universitas swasta di Bekasi dengan program kelas karyawan — kuliah malam, khusus untuk orang yang siangnya bekerja.
Saya ambil S1 Manajemen. Jadwal: kerja 07:00-16:00, kuliah 18:30-21:00.
💡 TIP
Kalau kamu pekerja shift dan ingin kuliah: Cari dulu posisi non-shift di perusahaan yang sama. Internal transfer lebih mudah daripada cari kerja baru. Pengalaman saya: kinerja baik di gudang membuka pintu ke purchasing — dan purchasing membuka pintu ke kuliah.
Menjalani "Ritme Zombie"
Kami — sesama pejuang kelas karyawan — punya istilah: Ritme Zombie. Raga di kelas, tapi nyawa masih tertinggal di tumpukan dokumen kantor.
Rutinitas harian saya:
| Jam | Aktivitas |
|---|---|
| 08:00-17:00 | Kerja di purchasing: order, negosiasi supplier, pastikan barang tepat waktu |
| 17:00-18:30 | "Balapan": keluar kantor, terjang macet Bekasi, cari makan cepat |
| 18:30-21:00 | Kuliah — dari staf purchasing jadi mahasiswa |
| 21:00-22:00 | Perjalanan pulang ke kontrakan |
| 22:00-01:00 | Kerjakan tugas, belajar untuk UTS |
Pernah suatu kali, jam 8 malam — dosen sedang menerangkan materi berat. Mata saya terasa seberat timbangan gudang. Berkali-kali saya cuci muka, cubit tangan sendiri. Teman di sebelah menyenggol sebelum kepala saya mendarat di buku catatan. Kami cuma bisa saling lirik dan tertawa kecil.
Tapi anehnya: setiap kali melihat teman-teman yang juga pakai seragam kantor di kelas, semangat muncul lagi. Kami di kapal yang sama.
Antara Deadline Kantor dan Tugas Kuliah
Begadang: Teman Akrab
Sampai rumah jam 10 malam, laptop menyala lagi. Kopi hitam, kadang mie instan. Selesaikan tugas yang deadline besok. Tidur jam 2 subuh. Besoknya? Harus tetap fresh di depan atasan.
"Maaf, Saya Ada Kelas..."
Ini kalimat paling sering saya ucapkan ke teman-teman. Saat mereka nongkrong di kafe Bekasi, saya di kelas. FOMO? Pasti. Tapi saya selalu ingat: investasi waktu sekarang, hasilnya seumur hidup.
Solidaritas Kelas Karyawan
Teman sekelas saya adalah orang-orang hebat: buruh pabrik, admin, teknisi, bahkan manajer yang tetap ingin belajar. Kami saling support — berbagi catatan saat ada yang telat karena lembur, menyemangati saat ada yang mau menyerah.
ℹ️ INFO
Networking di kelas karyawan itu aset tersembunyi. Teman sekelas Anda adalah profesional dari berbagai industri. Banyak dari mereka yang akhirnya menjadi koneksi berharga untuk karier — termasuk saya.
Brain Fog: Saat Otak Kelelahan
Seringkali, saking capeknya, terjadi momen konyol.
Pernah saat presentasi materi manajemen, saya saking terbiasa dengan istilah kantor, tiba-tiba salah sebut. Harusnya bilang "Point of View," yang keluar malah "Purchase Order." Seisi kelas tertawa — termasuk dosen.
"Duh, maaf Pak, ini efek kebanyakan input PO di kantor tadi siang!"
Di balik lucunya, saya belajar satu hal mahal: kemampuan adaptasi. Kuliah sambil kerja melatih saya tampil maksimal di bawah tekanan, menyusun kata-kata saat otak lelah, tetap profesional meski raga minta rebahan.
Pelajaran Hidup: Lebih dari Sekadar Ijazah
| Pelajaran | Dari Mana | Masih Dipakai? |
|---|---|---|
| Manajemen waktu | Atur shift kerja + jadwal kuliah + tugas | ✅ Setiap hari |
| Kemandirian finansial | Bayar semesteran dari gaji sendiri | ✅ Fondasi |
| Mental tahan banting | 4 tahun ritme zombie di Bekasi | ✅ Problem solving |
| Networking | Teman sekelas dari berbagai industri | ✅ Koneksi profesional |
| Adaptasi | Ganti mindset kerja→kuliah dalam 1 jam | ✅ Transisi karier |
Ijazah memang tiket. Tapi proses mendapatkannya — itulah "universitas kehidupan" sesungguhnya.
Bukan Cuma Kuliah-Pulang: Aktif di Organisasi
Satu hal yang saya banggakan: saya tidak menjadi mahasiswa "kupu-kupu" — Kuliah-Pulang, Kuliah-Pulang.
Di tengah padatnya ritme kerja dan kuliah malam, saya tetap menyempatkan diri aktif di organisasi kampus. Dua tempat yang paling membentuk saya:
Senat Mahasiswa — Seksi Lingkungan Hidup
Di Senat, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan — tapi soal tanggung jawab. Sebagai seksi lingkungan hidup, saya ikut merancang program penghijauan kampus, kampanye pengurangan sampah plastik dan koordinasi dengan pihak rektorat.
Di sinilah saya pertama kali belajar bikin proposal kegiatan — lengkap dengan anggaran, timeline dan pembagian tugas. Skill yang sama yang sekarang saya pakai setiap kali membuat proposal proyek atau perencanaan training.
UKM Mapala — Belajar dari Alam
Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) mengajarkan hal yang berbeda: bertahan dalam keterbatasan. Dari naik gunung, belajar survival hingga bakti sosial di daerah terdampak bencana — Mapala membentuk mental dan fisik saya.
Kegiatan Mapala yang paling berkesan:
- 🏕️ Bakti sosial — penggalangan bantuan, menyalurkan bantuan dan membantu masyarakat yang terdampak bencana alam
- 🌿 Konservasi alam — tanam pohon di area resapan, bersih-bersih sungai, menanam magrove di area yang terkena abrasi - Muara gembong, Bekasi
- 🕌 Kegiatan keagamaan — buka puasa bersama, santunan anak yatim
- 🩸 Donor darah — Kegiatan rutin setiap satu tahun sekali bersama PMI
💡 TIP
Organisasi kampus bukan cuma buat CV. Ini tempat Anda belajar soft skills yang tidak diajarkan di kelas: public speaking, negosiasi, event management, leadership. Semua skill ini yang akhirnya membedakan Anda di dunia kerja.
Bonus: Beasiswa dari Keaktifan
Satu bonus yang tidak saya duga: saya dapat beasiswa. Bukan karena IPK tinggi — tapi karena aktif di organisasi dan kegiatan sosial. Beasiswa ini lumayan meringankan biaya kuliah dan menjadi bukti bahwa kampus menghargai mahasiswa yang tidak cuma belajar di kelas.
Akhirnya, Toga Itu Tersemat
Empat tahun bukan waktu singkat dengan ritme "berangkat pagi, pulang malam." Tapi akhirnya hari itu tiba.
Saat nama saya dipanggil — mengenakan toga, berjalan ke depan, menerima ijazah — rasanya seperti mimpi. Pikiran melayang ke masa-masa di gudang, ke malam-malam menahan kantuk di kelas, ke semua pengorbanan. Juga ke momen-momen di senat dan Mapala — yang membuat perjalanan ini jauh lebih kaya dari sekadar mengejar gelar.
IPK akhir: 3,39. Bukan cumlaude — tapi setiap digitnya dibayar dengan keringat, kopi hitam dan jejak sepatu gunung. Melihat senyum bangga orang tua dari kejauhan... semua terbayar lunas.
❓ Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Q: Gimana cara membagi waktu kerja, kuliah, DAN organisasi?
A: Kuncinya skala prioritas. Gunakan waktu istirahat kantor (15-30 menit) untuk mencicil baca materi. Jangan tunda tugas sampai akhir pekan — Sabtu/Minggu untuk istirahat total agar tidak burnout. Saya juga pakai Google Calendar untuk blokir semua jadwal. Untuk organisasi: pilih 1-2 yang benar-benar Anda minati, jangan semua. Kegiatan Mapala biasanya Sabtu-Minggu — itu "me time" saya setelah seminggu kerja + kuliah.
Q: Apakah gelar dari kelas karyawan dihargai perusahaan?
A: Sangat. Justru banyak HRD mengapresiasi lulusan kelas karyawan karena dianggap punya mental tangguh, disiplin tinggi dan sudah punya pengalaman praktik. Apalagi kalau jurusan relevan dengan pekerjaan — seperti saya dari purchasing ke S1 Manajemen.
Q: Tips mengatasi kantuk saat kuliah malam?
A: Selain kopi secukupnya: cuci muka dengan air dingin sebelum kelas. Tetap aktif — sering bertanya atau diskusi. Kalau cuma duduk diam mendengarkan, kantuk lebih mudah menyerang. Juga: jangan makan berat sebelum kuliah — itu bikin ngantuk.
Q: Apa yang harus dilakukan saat merasa ingin berhenti?
A: Ingat kembali "why" Anda — alasan awal kenapa memutuskan kuliah. Lihat slip gaji, bayangkan karier 5 tahun ke depan. Istirahat sejenak, tapi jangan berhenti. Temukan teman senasib di kampus — berjuang bersama jauh lebih ringan.
Refleksi: Lebih dari Sekadar Gelar
Kalau saya menoleh ke belakang — dari kontrakan Cibitung, gudang, purchasing, kelas malam, senat, mapala, sampai akhirnya toga tersemat di pundak — rasanya seperti naik roller coaster yang tidak pernah berhenti. Tapi setiap tikungan punya pelajarannya sendiri.
Kuliah sambil kerja di Bekasi mengajarkan saya bahwa keterbatasan bukan penghalang — tapi batu asah. Keterbatasan waktu mengajarkan prioritas. Keterbatasan uang mengajarkan kemandirian. Keterbatasan tenaga mengajarkan resiliensi.
Dan satu hal yang paling penting: jangan jadi mahasiswa kupu-kupu. Kuliah-pulang itu aman, tapi tidak akan memberi Anda cerita untuk dibagikan. Organisasi, kegiatan sosial, alam bebas — di sanalah karakter Anda ditempa. Di sanalah Anda belajar bahwa hidup bukan hanya tentang nilai di transkrip, tapi tentang dampak yang Anda buat.
Poin Penting
- 🎯 Prioritas adalah segalanya. Kerja 8-4, kuliah 18:30-21:00, organisasi di akhir pekan — tanpa jadwal ketat, semuanya berantakan
- 👥 Teman sekelas + organisasi = support system. Jangan jadi kupu-kupu — aktif di kampus memberi lebih dari sekadar nilai
- 🏔️ Mapala dan Senat membentuk soft skills. Public speaking, event management, proposal writing — skill yang saya pakai sampai sekarang
- 🎓 Beasiswa dari keaktifan. Kampus menghargai mahasiswa yang berkontribusi — bukan cuma yang dapat nilai A
- ☕ Kopi + cuci muka = senjata melawan kantuk. Tapi jangan lupa tidur cukup di akhir pekan
- 🏆 IPK 3,39 bukan cumlaude — tapi setiap digit dibayar dengan keringat dan jejak gunung. Dan itu lebih berharga
Saya menulis ini Tambun, Bekasi — 15 tahun setelah pertama kali menginjakkan kaki di Bekasi dengan modal ijazah SMK dan tas ransel. Perjalanan masih panjang. Tapi satu hal yang pasti: setiap tetes keringat itu worth it.
Kalau kamu sedang berjuang — kerja sambil kuliah atau mempertimbangkan untuk mulai — saya ingin dengar ceritamu. Yuk, sharing di kolom komentar.
📚 Baca juga: - Pengalaman Kerja Admin Gudang di Bekasi - Suka Duka Merantau di Bekasi - Panduan Pengunjung Baru Dwik.XYZ

Suara Pembaca
Kritik, saran, atau pertanyaan Anda sangat membantu kebun digital ini tetap relevan.